Sudah lama rasanya blog ucapan syukur ini tidak saya tulis. Ada banyak hal yang menyebabkannya, saya kehilangan momentum akibat kesibukan yang melanda selama 1 bulan terakhir.
Bulan Juli lalu, seperti di post sebelum ini, saya mengalami begitu banyak moment indah dalam hidup. Pertama, lulus gelar master, diterima S3 tanpa harus membayar biaya kuliah dulu, ulang tahun dan akhirnya berpacaran dengan seseorang yang saya sayangi.
Singkat kata, bulan Juli lalu adalah bulan penuh kairos. Saya dikelilingi orang-orang yang begitu menyayangi saya. Saya senang menjalani hidup ketika itu.
Lalu sesuatu hal terjadi.
Saya mengalami kelelahan dan stress ringan yang menyebabkan saya terserang virus dan harus terbaring sakit selama satu minggu. Puji Tuhan saat ini saya dalam keadaan sehat.
Kelelahan yang saya derita adalah akibat urusan administrasi yang harus saya selesaikan dalam rangka pendaftaran S3. Sungguh menyebalkan, saya harus bergerak ke sana ke sini untuk menyelesaikan urusan tersebut. Alhasil beberapa kali jam makan terlewat. Selain itu, saya harus memperhatikan hubungan dengan orang yang saya sayangi. Hubungan yang baru seumur jagung itu harus saya atur seefektif mungkin, karena ternyata kami harus berhubungan jarak jauh tak lama setelah peresmian hubungan kami.
Sementara stress yang saya alami adalah karena saya mengalami penurunan kepercayaan diri yang besar dalam menyongsong musim yang baru. Jenjang S3 yang akan saya jalani bukanlah hal yang mudah. Saya harus kembali ke Porgram Studi S1 saya, yaitu Fisika. Nah, karena saya dianggap tidak linier (S2-nya bukan Fisika), saya diharuskan untuk tetap mengambil mata kuliah wajib S2 Fisika, yaitu Mekanika Kuantum, Mekanika Analitik, Elektrodinamika dan Mekanika Statistik. Semua mata kuliah ini adalah mata kuliah yang sangat sulit untuk dilewati. Terlebih kualifikasi S3 Fisika adalah lulus mata kuliah ini dengan nilai minimal B.
Puji Tuhan saya sudah mengambil mata kuliah Mekanika Statistik ketika S1 dan mendapat nilai B. Sehingga saya “tinggal” mengambil 3 mata kuliah lainnya. Intinya, saya merasa kurang percaya diri akibat hal ini. Saya sudah tidak belajar Fisika selama 2 tahun dan saya harus menjalani semester pertama yang sangat berat ini.
Itu baru satu penyebab stress yang saya alami. Stress yang lainnya adalah tentang proyek yang dosen saya percayakan kepada saya. Suatu proyek dengan nominal yang lumayan menurut saya menuntut saya melakukan pekerjaan yang tidak saya suka, yakni berurusan dengan perkara mekanik dan elektronik. Hal ini terlampau ada di pikiran saya dan menjadikan saya stress ringan.
Puji Tuhan, Tuhan menunjukan jalan-Nya dengan memberi banyak ide untuk mendelegasikan pekerjaan kepada seorang rekan sepalayanan di gereja. Dan kerennya, saya mendapat ide-ide baru dari kerjasama ini.
Kehilangan kepercayaan diri ini seakan mengubur diri ini ke dalam keragu-raguan terhadap diri sendiri. Seakan-akan apa yang telah saya capai di masa lalu tidak ada artinya. IP S2 yang mencapai angka maksimum 4.00 tidak berarti ketika masuk di S3 Fisika, karena tidak satupun dari mata kuliah itu yang bisa ditransfer.
Hal lainnya adalah tentang riset. Saya harus melakukan riset S3 saya berbeda bidang dengan riset S2. Hal ini dikarenakan saya harus mengikuti riset yang harus sejalan dengan kelompok keahlian saya di Fisika yaitu instrumentasi.
Ketidakpercayaan diri ini menjadikan saya begitu inferior memandang diri sendiri. Akibatnya, saya menjadi tidak percaya diri melakukan hal-hal yang sebetulnya biasa saya lakukan. Pikiran-pikiran yang baru saya utarakan di atas akhirnya membuat saya terserang virus dan harus istirahat selama 1 minggu.
Dipikir-pikir, stress yang saya alami sebetulnya adalah stress yang tidak perlu. Stress yang terjadi sebelum saya melakukan pekerjaan, dengan kata lain saya mengalami kekhawatiran yang berlebihan.
Puji Tuhan sejak 2 hari yang lalu, saya sudah lumayan fit. Saya mencoba menata hidup kembali, mencoba kembali ke jalur hidup yang benar. Dan menulis blog ini menjadi cara saya untuk meningkatkan mood hidup.
Saya tidak boleh seperti ini terlalu lama, karena tanggung jawab saya begitu banyak. Bahkan yang menyangkut hidup banyak orang. Saya harus tetap kuat dalam menyongsong musim yang baru.
Terima kasih Tuhan untuk musim yang baru. Kesempatan-kesempatan baru yang menuntut keteguhan dan kemantapan hati dalam menjalaninya.
Berjalanlah bersamaku ya Tuhan di musim yang baru ini.
- be grateful everyday -
[...] adalah masalah kekuatiran akan masa depan. Saya mengalami penurunan kepercayaan diri akibat memasuki babak baru dalam kehidupan, saya membahasnya sedikit di blog saya yang lain. [...]